![]() |
| Perkembangan Konflik Arab Saudi dan Houthi |
SumberInformasi.com — Konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman merupakan salah satu persoalan geopolitik paling kompleks di Timur Tengah. Perseteruan yang melibatkan perebutan kekuasaan di Yaman, persaingan pengaruh regional, serta keterlibatan kekuatan asing ini telah berlangsung selama bertahun-tahun dan menimbulkan dampak besar bagi keamanan kawasan maupun kehidupan jutaan warga sipil.
Konflik tersebut tidak dapat dipahami hanya sebagai pertentangan antara Arab Saudi dan Houthi. Pada dasarnya, perang ini berakar pada krisis politik dalam negeri Yaman yang kemudian berkembang menjadi konflik regional, dengan melibatkan Iran, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, serta sejumlah kelompok bersenjata lainnya.
Memasuki 2026, situasi kembali menunjukkan tanda-tanda eskalasi setelah periode penurunan intensitas pertempuran yang berlangsung sejak gencatan senjata 2022. Perkembangan ini menimbulkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas Yaman, keamanan Arab Saudi, dan jalur perdagangan internasional di Laut Merah.
Mengenal Kelompok Houthi dan Arab Saudi
Kelompok Houthi, yang secara resmi dikenal sebagai Ansar Allah, merupakan gerakan politik dan bersenjata yang berasal dari Yaman bagian utara. Gerakan ini tumbuh dari komunitas Zaydi, salah satu cabang Syiah yang memiliki sejarah panjang di wilayah tersebut.
Pada awal perkembangannya, gerakan Houthi mengangkat isu identitas keagamaan, ketimpangan politik, dan marginalisasi masyarakat di wilayah utara Yaman. Seiring waktu, kelompok ini berkembang menjadi kekuatan militer dan politik yang mampu menantang pemerintah pusat.
Sementara itu, Arab Saudi merupakan negara yang berbatasan langsung dengan Yaman. Riyadh memiliki kepentingan besar dalam menjaga keamanan perbatasannya, mencegah munculnya kekuatan bersenjata yang dianggap mengancam wilayahnya, serta mempertahankan stabilitas politik di negara tetangga tersebut.
Arab Saudi juga memandang meningkatnya hubungan Houthi dengan Iran sebagai persoalan keamanan strategis. Teheran dituduh memberikan dukungan militer kepada kelompok tersebut, meskipun tingkat pengaruh Iran terhadap setiap keputusan Houthi tidak selalu mudah dipastikan.
Dengan demikian, konflik ini memiliki dua dimensi utama: perebutan kekuasaan di Yaman dan persaingan kepentingan keamanan di kawasan Timur Tengah.
Latar Belakang Konflik: Dari Krisis Politik Menuju Perang
1. Ketidakstabilan politik setelah Arab Spring 2011
Akar langsung konflik modern di Yaman dapat ditelusuri ke gelombang demonstrasi Arab Spring pada 2011. Saat itu, pemerintahan Presiden Ali Abdullah Saleh menghadapi tekanan besar akibat protes masyarakat terhadap persoalan politik, ekonomi, dan tata kelola pemerintahan.
Saleh akhirnya mengundurkan diri pada 2012 melalui proses transisi yang didukung negara-negara Teluk dan komunitas internasional. Kekuasaan kemudian beralih kepada Abdrabbuh Mansur Hadi.
Pemerintahan baru diharapkan mampu membangun sistem politik yang lebih inklusif dan menyelesaikan berbagai persoalan nasional. Namun, proses transisi tersebut menghadapi banyak hambatan, mulai dari lemahnya institusi negara hingga perselisihan mengenai pembagian kekuasaan dan sumber daya.
Dialog nasional yang difasilitasi Perserikatan Bangsa-Bangsa menghasilkan sejumlah kesepakatan politik, tetapi tidak berhasil menyatukan seluruh kelompok yang memiliki kepentingan berbeda.
Kondisi inilah yang membuka ruang bagi kelompok Houthi untuk memperluas pengaruhnya.
2. Houthi merebut ibu kota Sana'a pada 2014
Pada September 2014, kelompok Houthi bersama sejumlah sekutu politik dan militer berhasil mengambil alih Sana'a, ibu kota Yaman.
Keberhasilan tersebut menjadi titik balik penting dalam konflik. Houthi memanfaatkan ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah, termasuk persoalan kenaikan harga bahan bakar dan tuntutan perubahan politik.
Kelompok ini kemudian memperluas pengaruhnya dan menekan pemerintahan Hadi. Pada awal 2015, krisis semakin memburuk setelah Hadi kehilangan kendali atas ibu kota dan kemudian meninggalkan Yaman.
Bagi Arab Saudi, perkembangan tersebut menjadi ancaman yang tidak dapat diabaikan. Kelompok bersenjata yang memiliki hubungan dengan Iran semakin kuat di negara yang berbatasan langsung dengan wilayah selatan kerajaan.
Namun, perebutan Sana'a bukan semata-mata akibat persaingan Arab Saudi dan Iran. Peristiwa tersebut juga mencerminkan kegagalan transisi politik, persaingan elite, serta persoalan struktural yang telah lama membebani Yaman.
3. Arab Saudi memimpin intervensi militer pada 2015
Pada 26 Maret 2015, Arab Saudi memimpin koalisi militer untuk mendukung pemerintahan Hadi yang diakui secara internasional.
Operasi militer tersebut bertujuan menghentikan kemajuan Houthi dan memulihkan pemerintahan yang sebelumnya dipimpin Hadi. Koalisi melakukan serangan udara dan mendukung berbagai operasi militer terhadap kelompok tersebut.
Namun, intervensi itu tidak menghasilkan kemenangan cepat. Houthi tetap mempertahankan kendali atas Sana'a dan sebagian besar wilayah barat laut Yaman.
Perang kemudian berkembang menjadi konflik berkepanjangan yang melibatkan berbagai kelompok lokal dengan kepentingan berbeda. Pemerintah yang didukung Arab Saudi pun menghadapi tantangan internal, termasuk persaingan dengan kelompok-kelompok anti-Houthi lainnya.
Alih-alih menyelesaikan krisis politik, perang justru memperdalam perpecahan dan memperburuk kondisi ekonomi Yaman.
Mengapa Arab Saudi dan Houthi Terus Berkonflik?
Ada sejumlah faktor yang membuat perseteruan ini sulit diselesaikan.
Ancaman keamanan di perbatasan Arab Saudi
Yaman memiliki perbatasan darat yang panjang dengan Arab Saudi. Serangan rudal dan pesawat nirawak yang diluncurkan Houthi ke wilayah Saudi menjadi salah satu sumber kekhawatiran utama Riyadh.
Target yang pernah menjadi perhatian mencakup fasilitas energi, bandara, dan infrastruktur strategis. Arab Saudi memandang kemampuan serangan jarak jauh Houthi sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasionalnya.
Bagi Houthi, kemampuan tersebut juga menjadi alat untuk menekan lawan dan memperkuat posisi tawar dalam negosiasi.
Persaingan pengaruh Arab Saudi dan Iran
Hubungan Houthi dengan Iran menjadikan konflik Yaman bagian dari persaingan geopolitik Timur Tengah.
Arab Saudi berusaha membatasi pengaruh Iran di wilayah yang berbatasan langsung dengannya. Sebaliknya, Iran memandang hubungan dengan Houthi sebagai salah satu unsur penting dalam jaringan kemitraan regionalnya.
Meski demikian, menyederhanakan Houthi sebagai sekadar perpanjangan tangan Iran juga tidak sepenuhnya menjelaskan situasi. Kelompok tersebut mempunyai akar lokal, agenda politik sendiri, dan kepentingan mempertahankan kekuasaan di Yaman.
Karena itu, penyelesaian konflik membutuhkan pemahaman terhadap persoalan internal Yaman sekaligus hubungan antarkekuatan regional.
Perebutan legitimasi dan kekuasaan di Yaman
Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan kelompok Houthi memiliki klaim serta kepentingan politik yang bertentangan.
Houthi menguasai Sana'a dan sebagian besar wilayah barat laut, sementara pemerintahan yang diakui secara internasional beroperasi melalui struktur pemerintahan yang berpusat di wilayah lain.
Selain itu, kelompok separatis selatan, kekuatan suku, dan kelompok bersenjata lokal turut memengaruhi keseimbangan kekuasaan.
Kondisi tersebut membuat konflik tidak bisa diselesaikan hanya melalui kesepakatan bilateral antara Riyadh dan Houthi. Kesepakatan yang tidak melibatkan pihak-pihak penting di Yaman berisiko menciptakan ketegangan baru.
Perkembangan Konflik dari 2015 hingga 2026
2015–2018: Perang meluas dan krisis kemanusiaan memburuk
Pada periode awal intervensi Arab Saudi, pertempuran meluas ke berbagai wilayah Yaman. Serangan udara, pertempuran darat, dan gangguan terhadap jalur distribusi barang memperburuk keadaan masyarakat.
Pertempuran di wilayah pesisir Laut Merah, termasuk sekitar pelabuhan Hodeidah, menjadi sangat penting karena pelabuhan tersebut merupakan jalur utama masuknya barang komersial dan bantuan kemanusiaan.
Pada Desember 2018, perundingan yang difasilitasi PBB di Stockholm menghasilkan kesepakatan mengenai Hodeidah dan sejumlah persoalan lain. Namun, kesepakatan tersebut tidak mengakhiri perang secara menyeluruh.
2019–2021: Serangan lintas batas dan kebuntuan militer
Pada periode ini, Houthi meningkatkan kemampuan serangan rudal dan pesawat nirawak. Arab Saudi menghadapi ancaman terhadap wilayah perbatasan serta infrastruktur strategisnya.
Di sisi lain, koalisi yang dipimpin Riyadh tidak berhasil mengembalikan seluruh wilayah yang dikuasai Houthi kepada pemerintah Yaman.
Persaingan di antara kelompok-kelompok yang menentang Houthi juga memperumit situasi. Sebagian kekuatan di selatan memiliki agenda politik berbeda, termasuk tuntutan pemisahan diri.
Perang semakin menunjukkan karakter konflik yang tidak hanya melibatkan dua pihak, tetapi juga berbagai kelompok dengan tujuan masing-masing.
2022: Gencatan senjata membuka peluang perdamaian
Pada April 2022, gencatan senjata yang difasilitasi PBB mulai berlaku. Kesepakatan ini membantu mengurangi intensitas pertempuran dan membuka peluang bagi pembicaraan politik.
Gencatan senjata tersebut secara resmi berakhir pada Oktober 2022 setelah para pihak tidak mencapai kesepakatan untuk memperpanjangnya. Meskipun demikian, tingkat kekerasan di sejumlah front tetap lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.
Pada tahun yang sama, Presiden Hadi menyerahkan kewenangannya kepada Dewan Kepemimpinan Presiden atau Presidential Leadership Council (PLC), yang kemudian menjadi salah satu struktur utama pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional.
2023–2024: Diplomasi Saudi-Houthi dan persoalan Laut Merah
Pada 2023, Arab Saudi dan Houthi melanjutkan pembicaraan langsung dengan dukungan diplomatik Oman dan upaya mediasi PBB.
Pembicaraan tersebut mengarah pada peluang penyusunan peta jalan untuk menghentikan perang, membayar gaji pegawai negeri, membuka jalur transportasi, serta memulai proses politik yang lebih luas.
Namun, peta jalan perdamaian itu tidak diformalkan menjadi penyelesaian menyeluruh.
Situasi semakin rumit setelah perang di Gaza meletus pada Oktober 2023. Houthi melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah dan Teluk Aden, dengan menyatakan bahwa tindakan tersebut merupakan bagian dari dukungan terhadap Palestina.
Serangan-serangan itu mengganggu pelayaran internasional dan memicu respons militer Amerika Serikat serta Inggris. Akibatnya, konflik Yaman semakin terhubung dengan ketegangan yang lebih luas di Timur Tengah.
2025: Konflik regional kembali meningkatkan tekanan
Pada 2025, ancaman terhadap pelayaran di Laut Merah dan serangan terhadap posisi Houthi kembali menjadi perhatian internasional.
Amerika Serikat melancarkan operasi militer terhadap Houthi pada Maret hingga Mei 2025. Operasi tersebut kemudian dihentikan setelah tercapai pengaturan yang dimediasi Oman, yang mencakup penghentian serangan terhadap kapal-kapal Amerika Serikat dan penghentian serangan Amerika terhadap Houthi dalam kerangka kesepakatan tersebut.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa konflik Yaman telah melampaui persoalan perbatasan Arab Saudi. Keamanan pelayaran, kepentingan negara-negara besar, dan perang regional ikut menentukan arah konflik.
2026: Ketegangan meningkat kembali
Memasuki 2026, konflik Yaman kembali menghadapi perkembangan yang mengkhawatirkan.
Perubahan keseimbangan kekuasaan di wilayah selatan, termasuk melemahnya posisi Dewan Transisi Selatan atau Southern Transitional Council (STC) setelah serangkaian perkembangan militer pada akhir 2025 dan awal 2026, mengubah dinamika politik di wilayah yang tidak dikuasai Houthi.
Pada saat yang sama, eskalasi ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat meningkatkan risiko keterlibatan Houthi dalam konfrontasi regional yang lebih luas.
Laporan perkembangan pada September 2026 juga menyebutkan adanya kemajuan militer Houthi di sejumlah wilayah serta meningkatnya risiko terhadap jalur pelayaran Laut Merah. PBB turut memperingatkan bahwa aktivitas militer di beberapa front dan ancaman terhadap kapal komersial dapat memperburuk situasi keamanan.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa penurunan intensitas perang sejak 2022 tidak sama dengan tercapainya perdamaian permanen.
Catatan: Perkembangan pada 2026 masih berlangsung. Situasi di lapangan, klaim para pihak, dan hasil diplomasi perlu terus diverifikasi berdasarkan laporan terbaru dari sumber independen dan lembaga internasional.
Dampak Konflik terhadap Masyarakat Yaman
Dampak terbesar konflik ini dirasakan oleh masyarakat sipil. Bertahun-tahun pertempuran telah merusak infrastruktur, mengganggu pelayanan kesehatan, memperlemah perekonomian, dan menyebabkan jutaan orang kehilangan tempat tinggal atau sumber penghidupan.
Sejumlah persoalan kemanusiaan yang terus membayangi Yaman meliputi:
Kerawanan pangan: Banyak keluarga menghadapi kesulitan memperoleh makanan yang cukup akibat kemiskinan, gangguan distribusi, dan terbatasnya sumber pendapatan.
Layanan kesehatan yang terbatas: Kerusakan fasilitas kesehatan, kekurangan tenaga medis, dan sulitnya memperoleh obat-obatan meningkatkan risiko bagi masyarakat.
Pengungsian: Pertempuran memaksa banyak warga meninggalkan rumah mereka dan bergantung pada bantuan kemanusiaan.
Pendidikan terganggu: Kerusakan sekolah, keterbatasan fasilitas, dan kesulitan ekonomi menghambat akses pendidikan anak-anak.
Kerusakan ekonomi: Konflik mengganggu perdagangan, kegiatan usaha, distribusi bahan bakar, dan kemampuan pemerintah menyediakan pelayanan publik.
Perserikatan Bangsa-Bangsa terus menyoroti besarnya kebutuhan bantuan kemanusiaan di Yaman. Tanpa penghentian kekerasan dan pemulihan ekonomi, masyarakat sipil akan terus menanggung konsekuensi perang.
Mengapa Laut Merah Menjadi Wilayah Strategis?
Laut Merah memiliki posisi penting dalam perdagangan internasional karena menghubungkan jalur pelayaran antara Eropa dan Asia melalui Terusan Suez serta Selat Bab el-Mandeb.
Selat Bab el-Mandeb, yang berada di antara Yaman dan Tanduk Afrika, merupakan jalur strategis bagi kapal dagang dan pengangkut energi.
Ketika Houthi menyerang kapal-kapal di kawasan tersebut, dampaknya dapat meluas ke luar Yaman. Perusahaan pelayaran dapat mengalihkan rute kapal melalui Tanjung Harapan di Afrika, sehingga perjalanan menjadi lebih panjang dan biaya logistik meningkat.
Gangguan terhadap jalur tersebut juga berpotensi memengaruhi harga pengiriman, waktu pengiriman barang, dan rantai pasok internasional.
Bagi Arab Saudi, stabilitas Laut Merah penting untuk melindungi kepentingan ekonomi, keamanan maritim, dan aktivitas perdagangan regional.
Apakah Arab Saudi dan Houthi Dapat Berdamai?
Peluang perdamaian tetap terbuka, tetapi prosesnya menghadapi sejumlah tantangan.
Pertama, diperlukan jaminan keamanan yang dapat diterima kedua pihak. Arab Saudi menginginkan penghentian serangan lintas batas, sedangkan Houthi menuntut penyelesaian politik dan ekonomi yang memperkuat posisi mereka di Yaman.
Kedua, pembicaraan bilateral perlu dihubungkan dengan proses politik nasional yang melibatkan pemerintah Yaman dan kelompok-kelompok penting lainnya. Kesepakatan antara Riyadh dan Houthi saja belum tentu menyelesaikan konflik internal Yaman.
Ketiga, dukungan negara-negara regional dan internasional perlu diarahkan pada proses diplomasi, perlindungan warga sipil, serta pemulihan ekonomi. Pengurangan ketegangan antara Arab Saudi dan Iran dapat membantu, tetapi tidak otomatis mengakhiri persoalan domestik Yaman.
Keempat, pelaksanaan kesepakatan harus disertai mekanisme pemantauan yang jelas. Tanpa kepercayaan dan jaminan bahwa kesepakatan dipatuhi, gencatan senjata berisiko hanya menjadi jeda sebelum pertempuran berikutnya.
Intervensi militer Arab Saudi sejak 2015 tidak berhasil mengakhiri kekuasaan Houthi di Sana'a. Sementara itu, upaya diplomasi yang berkembang sejak 2022 membuka peluang penurunan ketegangan, tetapi belum menghasilkan penyelesaian politik permanen.
Perkembangan pada 2026 kembali memperlihatkan betapa rapuhnya situasi di Yaman. Ketegangan regional dan ancaman terhadap jalur pelayaran internasional dapat mendorong konflik meluas kembali jika tidak diimbangi langkah diplomatik yang efektif.
Pada akhirnya, perdamaian yang berkelanjutan tidak cukup hanya menghentikan serangan antara Arab Saudi dan Houthi. Penyelesaian juga harus menjawab persoalan pembagian kekuasaan, keamanan, pemulihan ekonomi, dan kebutuhan kemanusiaan masyarakat Yaman.
Tanpa upaya tersebut, Yaman berisiko terus terjebak dalam siklus konflik yang merugikan rakyatnya sendiri sekaligus mengancam stabilitas Timur Tengah dan perdagangan dunia.


0 Komentar